By Sarbaitinil

KATA PENGANTAR

Pendidikan adalah hak asasi manusia, semua manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan tanpa terkecuali. Sebagai orang tua, kita akan bangga dan bahagia jikalau anak-anak kita mengenyam pendidikan, lulus dengan memiliki gelar sarjana S1/S2/S3 dan berhasil dalam pekerjaan/usaha. Tanpa pendidikan yang baik, masa depan kemungkinannya akan lebih suram. Semakin baik pendidikan yang diperoleh, maka akan semakin maju seseorang. Hal ini berlaku pula untuk sebuah negara, dimana semakin banyak tuna bangsa yang terdidik maka akan semakin maju negara tersebut.

Dengan mempelajari, membandingkan dan menganalisa system pendidikan Negara lain dengan kelebihan-kelebihan dan keistimewaannya dengan Negara kita, maka kita akan mengetahui kelemahan-kelemahan system pendidikan di Negara kita untuk menuju pendidikan yang berkualitas.

 

SEKILAS TENTANG NEGARA FINLANDIA

Finlandia adalah bagian dari Eropa Barat, lebih tepatnya kelompok negara Skandinavia. Finlandia terletak di benua Eropa sebelah Utara, bertetangga dengan negara Swedia ke Barat, Rusia ke Timur, Estonia ke Selatan dan Norwegia ke Utara. Kelompok negara-negara Skandinavia ialah Finlandia, Swedia, Denmark dan Norwegia.

Finlandia merupakan bagian dari wilayah kerajaan Swedia pada awalnya dan semenjak tahun 1809 Finlandia berada dibawah kerajaan Rusia. Kemerdekaan diproklamasikan pada tahun 1917. Bergabung dengan organisasi PBB ditahun 1955. Finlandia adalah salah satu negara maju yang tingkat korupsi sangat rendah. Dan konsisten mendapat ranking (hampir) tertinggi secara internasional untuk performansi. Berada diposisi 11 dibidang Human Development Index dari PBB dan diberi posisi ke-6 sebagai negara yang bahagia (happiest nation) didunia.

Berdasarkan profil Demokrasi Audit Dunia (World Audit Democracy), Finlandia ialah negara terbebas dalam hal kebebasan bermasyarakat, kebebasan press, korupsi yang sangat rendah dan hak berpolitik. Juga mendapat posisi ke-6 didunia sebagai negara yang damai berdasar survey oleh Unit Intelijen Economist (Economist Intelligence Unit).

Finlandia diberi ranking sebagai negara terbaik didunia untuk ditinggali (untuk bertempat tinggal) oleh Reader’s Digest study yang diumumkan pada bulan Oktober 2007, survey ini dilakukan berdasar macam-macam hal misalnya kualitas air minum, tingkat polusi, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan (income), dan sebagainya.

Sekarang ini, Finlandia memiliki 6 provinsi administratif (lääni, pl. läänit). Otoritas provinsi merupakan bagian dari cabang eksekutif dari pemerintah nasional; sebuah sistem yang tidak berubah drastis sejak pendiriannya pada 1634 ke sebuah divisi baru ke “provinsi besar” pada 1997. Sejak itu, keenam provinsi adalah: Finlandia Selatan, Finlandia Barat, Finlandia Timur, Oulu, Laplandia, dan Aaland

Kepulauan Åland menikmati tingkatan otonomi sendiri. Menurut perjanjian internasional dan hukum Finlandia, pemerintahan regional Åland menangani beberapa masalah yang termasuk ke otoritas provinsi di Finlandia Daratan.

 

KEMAJUAN EKONOMI, POLITIK DAN PEMBANGUNAN

Finlandia dikenal dunia sebagai negara asal NOKIA. Teknologi informasi dan manufaktur merupakan andalah kemajuan ekonomi disamping industri kehutanan. Hasil utama Finlandia adalah elektronik, telekomunikasi, kertas dan produk kayu serta mesin-mesin berat.

Penurunan tersebut disebabkan meningkatnya jumlah lapangan kerja yang ditunjang oleh tumbuhnya usaha-usaha baru terutama di sektor industri, konstruksi, transportasi dan jasa sosial. Kendati pengangguran tinggi, namun Finlandia masih membutuhkan tenaga-tenaga terampil di sektor-sektor tertentu seperti konstruksi, industri perkapalan dan jasa yang saat ini terbatas jumlahnya. Finlandia merupakan negara industri, memiliki ekonomi pasar-bebas, dengan produksi perkapita kira-kira sama dengan Britania Raya, Prancis, Jerman, dan Italia. Standar hidup di Finlandia tinggi. Sektor kunci ekonomi adalah produksi, terutama di bidang telekomunikasi.

Perdagangan memiliki peran penting yang hampir mencapai sepertiga PDBnya. Finlandia mengimpor bahan mentah, energi, dan beberapa komponen barang produksi. Karena iklimnya, perkembangan pertanian terbatas untuk mempertahankan kecukupansendiri. Kehutanan merupakan ekspor yang cukup penting, menyediakan pekerjaan sekunder bagi populasi pedesaan. Integrasi yang cepat dengan Eropa Barat, Finlandia meninggalkan

mata uang markka dan beralih ke euro pada 1 Januari 1999.

Finlandia adalah sebuah negara kesejahteraan sehingga warga negaranya dikenai pajak yang besar, namun sebagai gantinya, mereka menikmati layanan sosial yang baik.

Parlemen Finlandia dari Helsinki. Finlandia menggunakan sistem semi-presidensial dengan parlemen. Presiden Finlandia bertanggung jawab terhadap kebijakan luar negeri sedangkan kekuasaan eksekutif dijalankan oleh kabinetnya, Valtioneuvosto atau Statsrådet, yang terdiri dari perdana menteri dan menteri untuk berbagai departemen.

Parlemen Finlandia yang disebut Eduskunta atau Riksdag beranggotakan 200 orang dan merupakan otoritas legislatif tertinggi di negara tersebut. Parlemen ini bisa mengubah Konstitusi Finlandia dan mengalahkan hak veto presiden. Legislasi bisa diusulkan oleh kabinet ataupun dari anggota Eduskunta yang dipilih untuk empat tahun dengan representasi proporsional.

 

Mengapa Tingkat Pengangguran Tinggi

Secara demografis, jumlah penduduk usia tua atau tidak bekerja lebih banyak dibanding penduduk usia muda (produktif) dengan perbandingan: usia 0-14 tahun (17,3%), 15-64 tahun (66,7%)-terbanyak pada usia 55-59, lebih dari 65 tahun (16%).

Berdasarkan data statistik tahun 2006, mayoritas pekerja adalah full-time work dengan jumlah 2,071 juta (2005) dengan status pekerja tetap dan memiliki penghasilan tetap. Sebagian besar dari mereka bekerja pada sektor jasa umum (public service) dan jasa lainnya sebanyak 790 ribu, diikuti dengan sektor manufacturing 460 ribu dan sektor perdagangan, hotel dan restoran 378 ribu.

Karena lapangan pekerjaan cenderung bertambah dan jumlah angkatan kerja Finlandia semakin sedikit, maka negara itu membutuhkan tenaga kerja asing. Tenaga kerja asing direkrut dari para imigran yang menetap di Finlandia atau dari negara-negara Uni Eropa dan European Economic Area (EEA) khususnya Baltik, Eropa Tengah dan Timur. Lapangan kerja pelayanan kesehatan (perawat). Hingga tahun 2005 jumlah imigran yang menetap di Finlandia mencapai 4,1% dari total penduduk atau berjumlah 113.852 orang. Kelompok etnis terbanyak berasal dari Rusia (24.621 orang), Estonia (15.459 orang) dan Swedia (8196 orang. Sementara itu warga Asia Pasifik yang tercatat memiliki komunitas yang cukup banyak adalah China, Thailand dan Vietnam.

Banyak yang berpandangan bahwa Finlandia bukan tempat menarik buat pendatang untuk mengadu nasib mengingat iklimnya yang ekstrem, tingkat pajak yang tinggi serta aturannya yang ketat. Namun demikian, sikap masyarakat Finlandia terhadap pendatang asing cenderung tidak negatif. Hal ini dilatarbelakangi oleh sifat bangsa Finlandia yang jujur, simple/sederhana dan suka menolong. Masyarakat Finlandia yang cenderung homogen pada mulanya kurang menerima kehadiran imigran dan pekerja asing. Namun semenjak dekade 1990-an, khususnya ketika bergabung dengan Uni Eropa tahun 1995, Finlandia berpandangan bahwa untuk bersaing dalam globalisasi ekonomi diperlukan dukungan tenaga kerja asing terampil yang dapat dimanfaatkan oleh industrinya guna menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

 

APA YANG TERKENAL DARI FINLANDIA

1.NOKIA

Perusahaan ini awalnya didirikan pada tahun 1865 dikota Tampere sebagai penggilingan kayu. Kemudian dipindahkan ke kota Nokia dengan alasan untuk memperoleh sumber daya listrik karena dekat dengan sungai. Dari sini asal nama Nokia yang akhirnya digunakan oleh perusahaan ini yang sekarang sangat terkenal dengan handphone. Saat ini Nokia berkantor pusat di kota Espoo, kota yang bersebelahan dengan ibukota Finlandia yakni Helsinki. Ditahun 1967, Nokia memiliki banyak bidang usaha mulai dari pabrik karet, kabel untuk telepon dan telegraph, produk kertas, sepeda, ban mobil, sepatu boot, komputer, telekomunikasi, televisi, mesin genset, kapasitor, aluminium dan sebagainya.

Nokia mengalami krisis keuangan ditahun 1990 yang disebabkan oleh kerugian atas bidang usaha televisi. Pada tahun 1992, perusahaan ini mengambilkan keputusan untuk berkonsentrasi dibidang telekomunikasi khususnya handphone.

2.LINUX

Linux adalah sebuah operating system komputer yang menyerupai Unix. Ini merupakan software bebas dan development terbuka yang biasanya kode bisa dimodifikasi, digunakan dan didistribusikan secara bebas tanpa biaya. Nama Linux berasal dari Kernel Linux yang dibikin pada tahun 1991 oleh Linus Torvalds dari Finlandia Linux banyak dipakai untuk server yang didukung oleh perusahaan komputer besar didunia, antara lain Dell, Hewlett-Packard, IBM, Novell, Oracle, Red Hat, Sun Microsystems. Dan juga digunakan untuk handphone dan video game seperti PlayStation 2, PlayStation 3, dsb. Dibidang internet, 80% perusahaan webhosting menjalan web server-nya dengan Linux, ini berdasar laporan dari Netcraft ditahun 2006.

3.Formula 1

Formula 1, atau biasa disingkat sebagai F1, adalah balapan mobil kelas dunia dan paling bergengsi, sebagaimana yang ditetapkan oleh Federasi Internasional Automobil (FIA). FIA merupakan sebuah badan yang mengurusi olahraga balapan mobil didunia.

 

PENDIDIKAN

Berdasarkan survey lembaga PBB, tepatnya oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), dengan survey-nya yang bernama PISA (Programme for International Student Assessment) yang menganalisa banyak negara di seluruh dunia setiap 3 tahun sekali, hasil survey memperlihatkan bahwa Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan terbaik didunia.

 

Universitas/Politeknik dan Program-Program Studinya

Di Finlandia, ada sebanyak 20 Universitas dan 30 Politeknik. Universitas memberikan pendidikan untuk sarjana S2 & keatas, sedangkan Politeknik untuk pendidikan tingkat diploma dan sarjana S1. Program studi yang ditawarkan untuk tingkat S1, antara lain: 1) Bachelor program dibidang kesehatan, 2) Bachelor program dibidang sejarah, 3) Bachelor program dibidang geografi, 4) Bachelor program dibidang lingkungan hidup, 5) Bachelor program dibidang teknologi / teknik, 6) Bachelor program dibidang bisnis, 7) Bachelor program dibidang industri & manajemen, 8) Bachelor program dibidang hokum, 9) Bachelor program dibidang informatika, 10) Bachelor program dibidang keuangan / ekonomi, 11) Bachelor program dibidang ilmu social, 12) Bachelor program dibidang manajemen, 13) Bachelor program dibidang design / art, 14) Bachelor program dibidang kimia, 15) Bachelor program dibidang real-estate.

Program studi yang ditawarkan untuk tingkat S2, antara lain: 1) Master program dibidang kesehatan, 2) Master program dibidang sejarah, 3) Master program dibidang geografi, 4) Master program dibidang lingkungan hidup, 5) Master program dibidang teknologi / teknik, 6) Master program dibidang bisnis, 7) Master program dibidang industri & manajemen, 8) Master program dibidang hokum, 9) Master program dibidang informatika, 10) Master program dibidang keuangan / ekonomi, 11) Master program dibidang ilmu social, 12) Master program dibidang manajemen, 13) Master program dibidang design / art, 14) Master program dibidang kimia, 15) Master program dibidang real-estate

 

Daya Tarik Sekolah/Kuliah di Finlandia

Manfaat dari sekolah/kuliah di Universitas dan/atau di Politeknik di Finlandia:

1.Lulusan dari pendidikan yang terbaik didunia berdasar survey OECD (PISA)

2.Pengalaman yang luas tentang kultur dan kehidupan diluar negeri

3.Bertambahnya wawasan internasional

4.Kemampuan bahasa Inggris dan juga bahasa Finlandia yang ter-asah

5.Kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan di perusahaan multinasional dalam dan luar negeri

6.Kemungkinan pengalaman atas pekerjaan part-time sewaktu sebagai pelajar

Seiring dengan tingginya tingkat inflasi di Indonesia, semua harga barang-barang dan biaya hidup bertambah mahal. Biaya pendidikan juga turut semakin mahal, baik sekolah/universitas negeri maupun swasta.

Sedangkan pendidikan di Finlandia cukup murah, karena negara tersebut merupakan Negara sosialis. Pendidikan adalah hak asasi manusia, semua manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan tanpa terkecuali. Pendidikan untuk tingkat sarjana (S1/S2/S3) di Finlandia tidak memungut biaya tahunan. Calon mahasiswa / mahasiswi perlu membayar iuran keanggotaan organisasi pelajar untuk mendapatkan kartu pelajar atau kartu mahasiswa. Kartu pelajar memberikan banyak manfaat dan diskon, misalnya travel.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan di sekolah/universitas di Indonesia kurang lebih sama dengan biaya untuk sekolah di Finlandia, bahkan lebih murah jikalau dibandingkan dengan universitas swasta di Indonesia. Disamping itu, kualitas hasil pendidikan apabila lulusan dari Finlandia akan lebih berbobot karena wawasan yang lebih luas dan pengalaman internasional. Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan dalam & luar negeri pun akan lebih besar kemungkinannya.

 

Kesempatan Untuk Bekerja

Bekerja sambil sekolah / kuliah dimungkinkan karena berdasar hukum di Finlandia. Pelajar (mahasiswa) asing yang memiliki ijin tinggal sebagai pelajar dapat bekerja sampai 25 jam per minggu dalam periode akademik dan dapat bekerja full-time (40 jam / minggu) dalam periode liburan kuliah. Contoh pekerjaan yang dapat dilakukan oleh pelajar/mahasiswa adalah loper koran mingguan, loper koran harian, tukang bersih (cleaning service), pelayan restoran, pekerja part-time sesuai bidangnya, dan sebagainya. Banyak kemungkinan juga untuk bekerja sebagai asisten dosen, asisten laboratorium atau asisten riset di kampus-kampus, selain itu banyak kesempatan untuk magang atau bekerja part-time di perusahaan-perusahaan di Finlandia.

Berita surat kabar di Finlandia tentang analisis kebutuhan pekerja-pekerja asing untuk mengisi berbagai bidang pekerjaan karena kekosongan dan kekurangan penduduk serta kecilnya tingkat kelahiran anak di negara tersebut. Berdasar statistik, 1 orang wanita di Finlandia yang berkeluarga hanya memiliki 1,7 anak, ini yang menjadi kekhawatiran oleh pemerintah di negeri tersebut yang mana dalam tahun-tahun ke depan akan terjadi kekurangan tenaga kerja.

Pada tahun sekarang, 2007, ada sebanyak 50000 immigran pekerja. Diprediksikan oleh Institut Imigrasi bahwa hingga tahun 2015, Finlandia memerlukan sebanyak 103000 pekerja asing (immigran) untuk berbagai sektor industri. Dengan sekolah/kuliah di negara Finlandia, akan membuka peluang dan besar kesempatannya untuk bekerja di negara tersebut.

Kunci Keberhasilan Negara FInlandia

Negara yang menduduki peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai Indonesia dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia. Peringkat 1 Dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA, yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan keunggulannya dalam pendidikan untuk anak-anak lemah mental (PLB). Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Adapaun kunci keberhasilan pendidikan di Negara FInlandia adalah sebagai berikut :

1.Anggaran pendidikan, Finlandia memang menganggarkan biaya yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

2.Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes.

3.Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

4.Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula.

5.Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan terbaik dari sekolah menengah biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

6.Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.

7.Ujian dan testing itu akan menghancurkan tujuan belajar siswa. “Terlalu banyak testing membuat kecenderungan mengajarkan siswa, bagaimana cara untuk lolos ujian. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian.

8.Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

9.Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekerja dengan lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

10.Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru.

11.Guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan. Siswa yang lambat akan mendapatkan dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.

 

Berdasarkan penemuan PISA :

1.Sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

2.Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki.

3.Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb.

4.Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

5.Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut malah akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.

6.Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.

7.Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

8.Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa,” kata seorang guru, “maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!” Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Budaya Pendidikan Untuk Semua (PuS)

Mengamati beberapa sistem pendidikan yang pernah didengungkan negara-negara di dunia, tentu salah satunya pasti ada sistem yang dianut dan diterapkan secara langsung oleh negara tersebut untuk bersaing elite di pasar global. Diantaranya negara-negara Eropa yang sudah maju seperti Negara Jerman, Inggris, Belanda maupun Finlandia. Melangkah belajar dari negara Finlandia bahwa sosok dunia pendidikan yang digulirkan tentu sudah mencatat sebagai negara yang sangat sukses dan diakui terbaik dalam mengelola pendidikan di dunia dalam arti yang bisa mengintegrasikan dunia pendidikan, riset dan industri. Sisi dunia pendidikan mencetak tenaga ahli, tenaga kerja trampil (TKT) yang diserap oleh dunia riset yang menghasilkan temuan-temuan yang nantinya dimanfaatkan oleh dunia industri.

Kemudian di luar sistem pendidikan negara Finlandia tersebut ada suatu lembaga dana yang dinamai Takes, lembaga ini khusus bertugas yang hanya mendanai penelitian dan mempromosikan inovasi yang telah dihasilkan. Sehingga lembaga riset tidak pusing memikirkan dana untuk penelitian, semuanya sesuai dengan riset apa yang ingin dilakukan. Dari pola tersebut maka setiap tahun menciptakan inovasi-inovasi baru baik teknologi sains maupun jasa lainnya yang pada akhirnya membentuk budaya inovasi.

Pandangan budaya ini tentu akan mendorong semua orang untuk selalu berfikir tentang inovasi dan terobosan baru untuk bersaing di tingkat global. Di negara Finlandia sistem pendidikan dibangun dengan prinsip “Pendidikan Untuk Semua” sehingga semua warganegara harus didorong untuk mengasah otak dan keterampilan di lembaga pendidikan yang disediakan secara gratis serta berkompetisi dengan perlakuan sama tidak diskriminatif dan membeda-bedakan antar siswa pandai dan yang kurang. Pemerintah telah menyiapkan program-program untuk dunia kerja seperti program teknologi komunikasi dan informasi bagi warganya sebagai keterampilan tambahan. Memang sekilas gambaran sistem pendidikan di atas tentu jauh berbeda dengan negara kita Indonesia, dimana negara Finlandia ditopang oleh hasil hutan dan pertanian yang berbasis teknologi maju (modern). Sementara dunia pendidikan Indonesia yang setiap tahun disibukkan oleh urusan ujian nasional yang belum sejajar membawa negeri ini bersaing di tingkat Asia apalagi Dunia. Semoga apa yang kita oles bisa memberikan sedikit gambaran pendidikan Indonesia kini

Maraknya pengumuman hasil ujian akhir nasional (UAN), protes, pro-kontra pelaksanaannya, serta besarnya jumlah peserta yang gagal selayaknya menggugah kita untuk memacu peningkatan mutu pendidikan. Terlebih lagi di era global ketika pertukaran tenaga kerja dan tenaga ahli manca-negara seharusnya menjadi ancaman terhadap sumber daya manusia Indonesia.

Finlandia sejauh ini terkenal sebagai negara yang sangat sukses mengelola pendidikan. Dalam beberapa tahun teakhir, pendidikan di negara itu diakui sebagai yang terbaik di dunia. Negara yang terletak di kawasan Skandinavia itu mampu mengintegrasikan dunia pendidikan, riset dan industri. Dengan mengintegrasikan dunia pendidikan, riset dan industri, tingkat kemunculan inovasi menjadi tinggi. Finlandia pun mampu bersaing di tingkat global. Laporan tahunan Forum Ekonomi Dunia tahun 2004 menempatkan Finlandia pada urutan teratas negara yang perekonomiannya paling kompetitif di dunia. Dan tiga tahun ini, Finlandia selalu masuk dalam 10 besar. Tak mengeharankan, negara dengan penduduk sebanayk 5,2 juta jiwa (UN, 2005) ini pendapatan per kapitanya mencapai USD 37.460 (Bank Dunia, 2006) atau sekitar Rp. 342 juta per tahun.

Di bidang pendidikan pemerintah Finlandia tidak menerapkan sistem ranking. Mereka tidak menerapkan diskriminasi pada siswa yang pandai dan kurang pandai. Alhasil, di Finlandia tidak ada siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah. Sedangkan untuk mengevaluasi pendidikannya, pemerintah Finlandia menggelar ujian nasional. Namun, ujian ini tidak diikuti semua siswa dan tidak untuk semua mata pelajaran. Peserta ujian ini dipilih secara acak. Hasilnya hanya digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ada, bukan untuk menentukan kelulusan. Urusan kelulusan sepeuhnya diserahkan kepada pihak sekolah.

Dengan sistem pendidikan seperti itu, Finlandia mampu bersaing di tingkat global. Berdasarkan hasil survey komprehensif pendidikan dunia tahun 2003, siswa-siswa Finlandia menempati urutan nomer satu untuk tes matematika, sains dan bahasa.

 

Sekolah Gratis Bukan Mimpi

1.Torpparinmaki Comprehensive School adalah sebuah sekolah yang terletak di pinggiran ibu kota Helsinki.

2.Proses belajar-mengajar di sekolah ini memberikan pendidikan dasar kelas I hingga IX. Bangunan sekolah itu tidak mewah. Bentuknya bahkan lebih mirip gudang atau gedung olahraga bulu tangkis. Namun, ini adalah salah satu sekolah yang berkualitas tinggi di Finlandia.

3.Di sekolah ini tercatat 420 siswa yang terdiri dari 380 murid umum dan 40 murid yang perlu mendapat perlakuan khusus. “Murid khusus” ini adalah murid yang memiliki masalah sehingga perlu diberi perlakuan khusus. Ada yang sulit belajar atau stress karena ora tua mereka bercerai. Para murid khusus ini biasanya ditangani oleh guru konseling. Jika kasusnya agak berat, mereka akan ditangani psikolog. Murid khusus yang sudah bisa mengatasi masalahnya akan bergabung lagi d kelas umum.

4.Sulit membedakan mana yang tergolong murid khusus dan mana yang bukan. Pasalnya, para murid khusus ini tidak dipisahkan dari murid lainnya ketika belajar. Hal ini dilakukan untuk memisahkan mereka untuk menghindari stigma negatif.

5.Di sekolah itu terdapat 30 guru yang mengajar penuh dan 20 anggota staf sekolah. Di luar itu, ada beberapa relawan yang membantu proses belajar-mengajar di sekolah tersebut. Sebelum bergabung di sekolah itu, para guru harus melalui proses penyaringan yang sangat ketat. Hanya lulusan terbaik yang bisa menjadi guru. Kualitas guru memang menjadi faktor utama keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia.

6.Suasana belajar di sekolah itu secara umum tampak berbeda dengan suasana belajar sekolah di Indonesia. Di Torpparinmaki, proses belajar-mengajar tidak dilakukan di kelas-kelas besar seperti di Indonesia. Murid tampak belajar di mana saja di hampir semua sudut sekolah. Murid kelas I hingga kelas IX bisa saja belajar di tempat yang sama dengan mata pelajaran berbeda-beda. Di sebuah ruangan yang lebih mirip selasar, 10 murid dengan tekun belajar dengan menggunakan komputer. Ada yang belajar mengarang, matematika, desain, dan belajar bahasa Inggris, Swedia, atau Bahasa Jerman. Di aula ada beberapa anak yang belajar melukis.

7.Sistem pendidikan di Finlandia memang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Siswa yang tertinggal di mata pelajaran tertentu, misalnya, akan mendapatkan kelas ekstra. “Kami memberi ketentuan, untuk kelas VIII, misalnya, siswa harus memiliki kemampuan matematika hingga tingkat tertentu. Jika siswa membutuhkan, akan disediakan kelas ekstra.

hingga kelas IV siswa tidak diberi penilaian angka atau skor. Penilaian lebih bersifat kualitatif. Mulai kelas V, barulah murid diberi penilaian dengan skor. “Buat kami, angka tidak terlalu penting. Apalah arti angka V atau IX dalam sebuah tes. Yang penting bagi kami adalah siswa pada akhirnya menguai materi pelajaran.

  1. Untuk jangka waktu tertentu, guru akan mengevaluasi hasil pembelajaran di konferensi guru. Pada kesempatan ini, guru akan membahas kekurangan dan kelebihan metode belajar yang berlangsung di sekolah. Evaluasi ini tidak ada kaitannya dengan naik tidaknya siswa ke kelas lebih tinggi, sebab di Finlandia tidak ada siswa yang tinggal kelas.

Kebijakan tidak menaikkan siswa itu kami anggap tidak baik. Ini akan mengganggu kepercayaan diri siswa.

9.Pemerintah sendiri mengukur kualitas pendidikan dengan ujian nasional (UN). Namun, UN tidak digelar setiap tahun untuk setiap mata pelajaran. Tes bahasa Inggris, misalnya, hanya dilakukan di kelas V dan IX.

10.Ujian ini juga tidak diikuti oleh semua siswa. Pemerintah akan menentukan peserta dengan cara random di kelompok siswa cerdas, menengah, dan kurang. Hasil ujian ini digunakan untuk bahan evaluasi, bukan untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan siswa seperti di Indonesia.

11.Siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun kemudian meneruskan pendidikan ke sekolah menengah setingkat SMA. Setelah itu, siswa bisa mengikuti ujian masuk universitas atau politeknik.

Semua Gratis

1.Kesempatan makan siang bersama ratusan siswa Torpparinmaki dengan berbagai menu makan siang yang bergizi tersedia, mulai dari susu, roti, pasta, ikan asap, dan sup. Semua itu disediakan sekolah secara gratis. Biaya pendidikan di Finlandia seluruhnya gratis, mulai pendidikan dasar hingga universitas. Pemerintah bahkan menyediakan bus jemputan untuk murid sekolah dasar. Jika tidak ada bus jemputan, pemerintah memberikan subsidi uang transportasi untuk siswa.

2.Di luar itu, pemerintah menyediakan buku-buku dan perpustakaan lengkap. Kasarnya, murid di Finlandia tinggal datang ke sekolah untuk belajar tanpa memikirkan biaya untuk makan siang, ongkos, dan buku.

3.Pemerintah menyediakan anggaran 5.200 euro atau sekitar Rp 70 juta untuk setiap siswa per tahun. Leo Pahkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia, menyebutkan, setiap tahun ada sekitar 52.000 murid pendidikan dasar. Dengan demikian, anggaran yang disediakan pemerintah untuk murid pendidikan dasar mencapai Rp 3,64 triliun per tahun.

ANALISA DAN KOMENTAR

Prinsip yang dianut dalam penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia tertuang dalam UU Sisdiknas pasal 4 ayat 1 sampai 6. Namun pasal-pasal selanjutnya dalam UU Sisdiknas sendiri ternyata memperlakukan peserta didik dengan cara yang sangat diskriminatif, sebagaimana pasal 5 ayat 2 hingga 4, yang menyatakan bahwa hanya warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, atau tinggal di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, serta warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus, yang mekanismenya tidak dipaparkan dengan jelas bahkan tanpa PP turunan. Landasan hukum inilah yang akhirnya menjadi dasar bagi sekolah-sekolah untuk mengadakan kelas unggulan yang berisi peserta didik yang dianggap oleh sekolah memiliki tingkat intelektual yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Peserta didik di kelas unggulan biasanya mendapatkan fasilitas lebih, berupa tambahan mata pelajaran intensif dan juga tenaga pendidik dengan kapasitas lebih. Perlakuan khusus yang dapat diterjemahkan sebagai pendidikan khusus ini menimbulkan kecemburuan sosial diantara peserta didik karena persaingan tidak sehat yang diciptakan oleh sekolah. Terlebih lagi kemunculan label sekolah favorit dan sekolah tidak favorit, label SSN dan SBI, yang telah mengkotak-kotakkan level sekolah sehingga juga memunculkan persaingan yang tidak sehat diantara masing-masing sekolah yang tentu saja akan berimplikasi negatif pada peserta didik.

1.Sistem pendidikan di Indonesia seolah hanya berkutat pada kontroversi mengenai UN.

2.Sedangkan Finlandia membuktikan tanpa UN dengan system pendidikannya berhasil menempati urutan satu di dunia.

3.Sistem pendidikan Finlandia tidak mengkotak-kotakkan peserta didik seperti di Indonesia.

4.Tidak ada diskriminasi peserta didik yang didasarkan atas tingkat intelektualitas mereka. Peserta didik hanya dikategorikan menjadi dua, peserta didik yang cepat belajar dan lambat belajar. Peserta didik yang lambat belajar mendapatkan bimbingan belajar yang lebih intensif. Namun bagi peserta didik lainnya juga disediakan kelas tambahan bila mereka ingin mengikuti kelas tambahan secara sukarela. Bahkan diskriminasi juga tidak terjadi pada peserta didik yang memiliki kasus psikologis khusus ataupun lemah mental.

5.Tersedia kelas khusus bagi mereka tapi kelas tersebut tidak dihuni selamanya oleh peserta didik yang bermasalah tersebut, sebab mereka akan dikembalikan pada teman-teman sekelasnya bila dirasa mereka sudah cukup siap. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan agar tidak timbul stigma negatif yang dapat mengganggu rasa percaya diri peserta didik sehingga mereka terhambat untuk berprestasi. Hasilnya, Finlandia juga menjadi negara dengan berpredikat terbaik untuk pendidikan peserta didik yang lemah mental ataupun dengan kasus psikologis khusus sebab prestasi mereka ternyata tidak jauh berbeda dengan peserta didik yang normal.

Sebagaimana tergambar dalam prinsip-prinsip penyelenggaraan sistem pendidikan Finlandia, negara ini menganut prinsip pendidikan humanis. Humanis berasal dari kata humanus yang merupakan kata sifat dari homo yang berarti manusia. Pendidikan humanis tersebut didefinisikan sebagai keseluruhan unsur dalam pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi dengan tiga prinsip sebagai berikut:

1.Dalam proses pendidikan, pengembangan hati dan pikiran harus berjalan secara bersama-sama;

2.Peserta didik harus diberi kesempatan untuk berkenalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang abadi dan universal;

3.Dalam pendidikan harus ada kerjasama erat antara peserta didik dan pendidik, juga antara teori dan praktek.

Sebenarnya konsep humanizing human through education tersebut telah lama dikemukakan oleh banyak pakar pendidikan humanis sejak berabad-abad lalu. Tidak sejalan dengan konsep tabularasa yang pernah dikemukakan oleh John Locke dan bertentangan dengan Schopenhauer, melainkan lebih mengarah pada aliran konvergensi yang dianut oleh Al-Ghazali dan juga William Stern. Pandangan konvergensi tersebut mengemukakan bahwa manusia memang sejak lahir sudah membawa potensi dan bakat. Namun potensi dan bakat tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya secara maksimal tanpa dibantu dengan proses pendidikan. Intinya, pendidikan humanis dapat dipahami sebagai model pendidikan yang memuliakan manusia atas potensi-potensi kemanusiaan yang sudah ada dalam dirinya. Pada model pendidikan ini, manusia dipandang sebagai subyek yang otonom, sehingga pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan bukan pada pendidik. Selama tujuan pendidikan adalah untuk mengenalkan peserta didik terhadap realitas yang ada di sekitarnya dan menyadarkan mereka akan proses dehumanisasi yang terjadi atasnya, maka peserta didik tidak lagi dijejali dengan hapalan teori melainkan dengan membawa mereka pada realitas itu sendiri, melalui integrasi antara teori dengan praktek.

Finlandia menerjemahkan prinsip humanis dengan memberikan kesempatan yang sama pada seluruh anak yang berusia 7 tahun untuk mulai mengenyam bangku pendidikan dasar. Anak laki-laki maupun perempuan, dari keluarga dengan latar belakang ekonomi rendah hingga tinggi, anak imigran maupun penduduk asli, semuanya berkesempatan untuk belajar di sekolah-sekolah dasar Finlandia tanpa dipungut biaya sepeser pun. Bahkan anak-anak lemah mental maupun dengan kasus psikologis khusus juga memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya.

Kurikulum Pendidikan Dasar

1.Di Finlandia, mata pelajaran inti dan distribusi jam mata pelajaran dalam silabus pendidikan dasar ditetapkan melalui regulasi. Mata pelajaran inti yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar Finlandia adalah bahasa ibu (bahasa Finlandia atau Swedia) dan sastra; bahasa resmi lainnya; satu bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia; pendidikan lingkungan; pendidikan kesehatan; pendidikan agama atau etika; ilmu sejarah, ilmu sosial, matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, psikologi, musik, seni dan kerajinan, serta ilmu ekonomi rumah tangga.

2.Sementara di Indonesia, kurikulum pendidikan dasar secara umum memuat pendidikan agama; pendidikan kewarganegaraan; bahasa; matematika; ilmu pengetahuan alam; ilmu pengetahuan sosial; seni dan budaya; pendidikan jasmani dan olahraga; keterampilan atau kejuruan; dan muatan lokal.

3.Perbedaan yang sangat terlihat dari kedua kurikulum tersebut adalah bahwa Finlandia lebih banyak menekankan penguasaan bahasa dan sastra termasuk bahasa asing pada peserta didiknya. Selain fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, tentu saja penguasaan bahasa dan sastra menjadi sangat penting kedudukannya sebagaimana keberadaan bahasa dalam struktur ilmu sebagai basis yang harus dikuasai peserta didik selain matematika tentunya.

4.The National Board of Education adalah dewan yang menerbitkan kurikulum inti secara nasional. Mereka menyusun tujuan dan materi utama kurikulum pendidikan dasar yang berfungsi sebagai guideline bagi sekolah. Namun, pemerintah lokal dan sekolah dapat melakukan penyesuaian terhadap mata pelajaran yang akan diajarkan, berbasis pada kebutuhan peserta didik. Bahkan orang tua peserta didik juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam penyusunan kurikulum sekolah dan juga tujuan pendidikannya.

5.Indonesia selintas memang menerapkan sistem yang hampir serupa. Acuan kurikulum pendidikan nasional dibuat oleh Depdiknas dan pengembangannya diserahkan pada masing-masing sekolah sebagaimana KTSP diimplementasikan. Namun pada prakteknya, tidak semua pendidik memiliki kompetensi untuk mengembangkan KTSP sebab sudah terbiasa dengan pola kurikulum yang sentralistis.

6.Dalam proses pembelajaran, peserta didik di Finlandia tidak dipaksa pendidik untuk mencapai target tertentu. Pendidik hanya memberi tahu mereka tentang nilai-nilai yang dapat dicapai oleh peserta didik bila mereka memenuhi taraf tertentu. Target pembelajaran dibuat sendiri oleh peserta didik dengan bantuan orang tua peserta didik. Sistem pendidikan Finlandia memahami belajar sebagai proses bertahap yang tidak bisa dipaksakan apalagi diberi target waktu pencapaian. Sehingga, Finlandia yang tidak mengenal adanya sistem ‘tinggal kelas’ ini memberikan kesempatan pada peserta didik usia sekolah dasar (kelas 1-9) untuk berada di sekolah hingga 10 tahun lamanya dan bagi peserta didik usia sekolah menengah (kelas 10-12) hingga 4 tahun.

7.Sementara yang terjadi di Indonesia sangat jauh bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Finlandia. Sistem pendidikan di Indonesia mengenal adanya ‘tinggal kelas’ bagi peserta didik yang nilainya kurang sehingga dianggap tidak patut untuk melanjutkan ke kelas yang berikutnya. Finlandia memandang sistem seperti ini akan mengganggu rasa percaya diri peserta didik sehingga menghambat mereka untuk berprestasi. Namun yang terutama, sistem ‘tinggal kelas’ ini sangat dehumanis sebab tidak menghargai keunikan peserta didik sebagai individu yang memiliki kecepatan belajar berbeda-beda satu sama lain. Bahkan tidak sedikit jumlah peserta didik asal Indonesia yang mengakhiri hidupnya hanya karena mereka ‘tinggal kelas’.

8.Finlandia juga tidak mengenal rangking sebagaimana Indonesia yang selalu merangking peserta didiknya dalam rapot penilaian akhir semester atau akhir tahun. Sebab peringkat atau nilai dianggap tidak penting oleh pendidik, yang penting adalah bagaimana peserta didik dapat menguasai materi pelajaran.

9.Beban belajar peserta didik di Finlandia hanya 190 hari belajar per tahun sementara di Indonesia mencapai hampir 230 hari per tahun. Tiap minggunya, peserta didik belajar hampir 40 jam. Namun beban belajar yang tinggi tersebut tidak hanya dialami oleh peserta didik asal Indonesia, namun juga peserta didik yang negaranya sangat ingin mengejar kemajuan secara kompetitif. Akibatnya, peserta didik menjadi stres dan bahkan banyak yang mengalami school phobia.

10.Sebagaimana prinsip pendidikan humanis, kurikulum Finlandia mengedepankan integrasi antara teori dan praktek, terutama dalam pelajaran sains sehingga peserta didik dapat belajar banyak mengenai problem solving. Tidak seperti peserta didik di Indonesia yang rata-rata lebih banyak dijejali dengan hapalan teori yang sangat minim dengan praktek.

11.Pendidik di Finlandia tidak menyampaikan pengetahuan pada peserta didik dengan metode ceramah seperti yang masih terjadi pada kebanyakan pendidik di negeri ini. Peserta didik mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Pendidik menjadi fasilitator tempat mereka bertanya bila mereka menemui kesulitan. Di Indonesia, dialog interaktif antara pendidik dan peserta didik rata-rata hanya terjadi bila pendidik memberikan kesempatan pada peserta didik, itupun di akhir ceramahnya saat jam pelajaran sudah nyaris berakhir.

12.Di Finlandia, peserta didik tidak hanya belajar dengan bimbingan pendidik di kelas namun bebas belajar dimana saja sehingga suasana kegiatan belajar mengajar menjadi sangat fleksibel dan lebih nyaman. Bahkan penjaga sekolah hingga kepala sekolah pun juga ikut andil dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik bahkan juga dilibatkan untuk membantu menyiapkan makanan di dapur sekolah sebagai sarana interaksi mereka dengan orang-orang yang lebih dewasa.

13.Hampir serupa dengan di Indonesia, pendidik yang mengajar kelas 1-6 adalah guru kelas sementara pendidik untuk kelas 7-9 adalah guru mata pelajaran. Bedanya, sistem unifikasi menyebabkan pendidikan dasar di Finlandia tidak terpisah-pisah antara sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama sebagaimana terjadi di Indonesia.

Sarana Pendidikan

1.Kualitas pendidikan tidak dapat direfleksikan oleh kualitas fisik bangunan sekolah. Hal inilah yang ingin dibuktikan oleh Finlandia. Salah satu sekolah berkualitas tinggi di Finlandia bangunannya malah lebih mirip dengan gudang atau gedung olahraga bulutangkis. Peserta didik tidak belajar di kelas-kelas sebab mereka diperbolehkan belajar di sudut ruangan manapun dengan mempelajari mata pelajaran apapun. Peserta didik dengan kelas berapapun bahkan belajar di ruangan yang sama dengan mata pelajaran yang berbeda-beda. Bahkan bila mereka merasa penat, maka pendidik pun memperkenankan mereka untuk bermain.

2.Sementara itu, proses belajar mengajar di Indonesia hampir seluruhnya diadakan di dalam kelas, peserta didik duduk manis di bangkunya dan pendidik berceramah di depan kelas.

3.Pemerintah Finlandia mewajibkan setiap sekolah untuk menyediakan fasilitas bimbingan konseling bagi peserta didiknya. Mereka memberi perhatian yang luar biasa besarnya pada peserta didik yang memiliki gangguan psikologis dan lemah mental dengan cara memberi mereka bantuan dengan segera.

4.Di Indonesia, pada umumnya sekolah umum tidak mau direpotkan dengan keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus sehingga keberadaan mereka diisolasi dalam sekolah-sekolah luar biasa. Sementara fasilitas bimbingan konseling yang ada di sekolah-sekolah Indonesia pun jumlah konselornya tidak sebanding dengan jumlah peserta didik di masing-masing sekolah sehingga efektifitasnya belum terjamin.

5.Pemerintah Finlandia juga percaya bahwa asupan gizi yang baik akan mempengaruhi kecerdasan peserta didik. Sehingga setiap peserta didik mendapatkan makan siang gratis dari sekolah setiap harinya. Makanan yang disediakan adalah makanan dengan menu bergizi bergizi tinggi.

6.Sekolah-sekolah di Indonesia yang mayoritas tidak menyediakan fasilitas tersebut secara cuma-cuma.

7.Tidak cukup sampai disitu saja, setiap peserta didik bahkan mendapatkan fasilitas bus antar jemput gratis, bahkan peserta didik yang jarak rumahnya dengan sekolah lebih dari 5 km diberikan uang pengganti transportasi.

8.Di Indonesia, fasilitas bus sekolah pernah disediakan di ibukota, namun hanya beberapa bulan saja berjalan karena pendanaannya macet. Di daerah pelosok yang terpencil, peserta didik bahkan harus menempuh belasan kilometer untuk mencapai sekolah dengan berjalan kaki melewati sungai dan hutan rimba.

9.Masalah buku teks pelajaran juga tidak perlu dikhawatirkan oleh peserta didik sebab mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk membeli buku-buku teks pelajaran sebab semuanya telah disediakan oleh sekolah. Terlebih lagi jaringan perpustakaan umum di Finlandia sangatlah lengkap sehingga menunjang warga Finlandia menjadi warga yang memiliki budaya membaca sangat tinggi ini.

10.Di Indonesia, pengadaan perbukuan selalu menjadi proyek yang sering disalahgunakan oleh oknum birokrasi pendidikan bahkan dana BOS buku saja dikorupsi. Harga buku menjadi tidak terjangkau oleh sebagian besar kalangan, belum lagi berbagai ‘paksaan’ dan pungutan liar dari pihak sekolah dan penerbit dalam bisnis perbukuan. Budaya membaca warga Indonesia tergolong rendah, penyebabnya bukan karena mereka tidak suka membaca, namun karena harga buku tidak terjangkau oleh mereka.

11.Sekolah juga diperkenankan oleh pemerintah untuk menyediakan kegiatan tambahan pada peserta didik yang dilakukan pada pagi hari maupun sore hari pada jenjang pendidikan dasar secara sukarela. Semisal fasilitas playground untuk peserta didik yang tidak hanya dapat digunakan pada saat jam sekolah namun juga setelah jam sekolah usai. Sebab rata-rata jam sekolah telah berakhir pada tengah hari sementara para orang tua peserta didik baru pulang kerja setelah sore hari sehingga sekolah menyediakan taman bermain tersebut agar anak-anak dapat bermain bersama teman-teman sebayanya daripada menghabiskan waktu di rumah sendirian. Begitu besarnya perhatian sekolah hingga mereka juga disediakan makanan dan minuman selama berada di tempat tersebut.

12.Di Indonesia, fasilitas day care dan playground tidak pernah gratis, ada harga yang harus dibayar oleh orang tua peserta didik. Peserta didik yang orang tuanya berada pada golongan ekonomi menengah keatas lebih memilih fasilitas ekstrakurikuler berupa les musik atau olahraga, sehingga waktu mereka untuk bermain menjadi berkurang. Sementara itu, Indonesia masih disibukkan dengan masalah banyaknya anak yang masih buta aksara, masalah pekerja anak, traficking, dana masalah-masalah lainnya.

13.Perhatian pemerintah Finlandia yang sangat besar dalam pendidikan generasi penerus bangsa tersebut sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Sebab hanya peserta didik yang memiliki orang tua dengan penghasilan tinggi saja yang dapat menikmati sekolah-sekolah seperti di Finlandia.

14.Di Indonesia, sekolah berkualitas tinggi identik dengan sekolah ber-SPP mahal yang bangunannya super mewah dan fasilitasnya super canggih sehingga tidak semua kalangan dapat mengaksesnya. Bahkan untuk sekolah dengan kualitas yang biasa-biasa saja, orang tua pendidik masih harus dibebani biaya SPP, uang gedung, maupun pungutan-pungutan liar lainnya yang dilakukan oleh pihak sekolah.

15.Finlandia telah berhasil meminimalkan tingkat pengangguran di negeri mereka.

16.Indonesia yang memiliki tingkat pengangguran yang selalu meningkat setiap tahunnya.

17.Kreatifitas para lulusan sekolah-sekolah di Finlandia juga sudah terbukti secara internasional dengan keberhasilan Nokia yang selalu menginovasi produknya dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Namun demikian, sistem pendidikan Finlandia tidak hanya mencetak ‘buruh’ saja melainkan juga mencetak tenaga ahli yang selalu melakukan riset secara terus menerus. Sistem pendidikan yang diaplikasikan oleh negara maju dengan pendapatan perkapita penduduknya yang sangat tinggi ini sudah terbukti berhasil mengoptimalkan prestasi belajar peserta didik mereka hingga meraih predikat terbaik sedunia.

18.Perbedaan antara sistem pendidikan Finlandia dengan sistem pendidikan Indonesia amatlah mencolok.

19.Bila Finlandia menganut prinsip pendidikan humanis, maka Indonesia nampak sekali menganut prinsip behavioristik yang sangat dehumanis dalam sistem pendidikannya.

20.Namun demikian, sistem pendidikan Finlandia tersebut telah terbukti memberikan dampak positif terhadap optimalisasi prestasi peserta didik.

21.Sementara sistem pendidikan Indonesia belum memperlihatkan bahwa sistem tersebut dapat menunjang optimalisasi prestasi peserta didik baik secara nasional maupun internasional. Namun bila penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia mau lebih banyak belajar dari sistem pendidikan Finlandia, bukannya tidak mungkin bila lambat laun Indonesia yang kaya dengan potensi SDM dan SDA ini dapat segera bangkit dari krisis yang sedang melanda negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here