Era digital telah mendorong lahirnya website di tanah air. Menurut catatan Dewan Pers, sekitar 4.000 portal sudah terdaftar. Kita tidak tahu berapa ribu yang belum terdaftar resmi. Namun dari ribuan web tersebut, hanya sedikit saja yang fokus pada pengelolaan informasi pendidikan, terutama pada tataran konsep dan filosofis. Pemikiran konsep dan filosofis ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan di negeri ini sebagai referensi dalam menentukan arah kebijakan, juga sangat dirindukan para praktisi pendidikan sebagai sumber inspirasi yang mencerahkan.

Atas dasar realitas di atas itulah, para Alumni Filsafat Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (AFP-UNS) merasa terpanggil untuk ikut berkonstibusi dalam rangka menghadirkan pendidikan yang berkualitas. Tentu, para Sarjana Filsafat Pendidikan ini, mestinya merasa paling berdosa ketika melihat dunia pendidikan di negeri ini mulai kehilangan arah, sehingga kesulitan menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Harusnya, merasa paling berdosa ketika melihat dunia pendidikan formal di negeri ini kian dinodai syahwat komersialisasi yang melukai rasa keadilan di bidang pendidikan. Menghambat terjadinya pemerataan pendidikan yang bermutu sebagai hak azasi seluruh rakyat negeri ini.

Kalau kita mau jalan pintas dalam mengelola dunia pendidian, sebetulnya tinggal menentukan arah kiblat saja: ke Korea Selatan atau ke negara-negara Scandinavia. Di Korea Selatan, pendidikan formal diarahkan untuk menciptakan robot-robot kreatif yang siap melayani dunia industri. Maka, semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan seperti kulikulum, silabus dan lain-lain didesain untuk melahirkan tenaga kerja handal yang siap melayani kebutuhan industri. Di negara-negara Scandinavia seperti Belgia dan tetangga-tetangganya, pendidikan justru memberikan kebebasan pilihan pada peserta dididik. Para peserta didiklah yang menentukan akan belajar apa mereka, ingin menjadi apa mereka. Peran negara dan lembaga pendidikan formal adalah memfasilitasi dan membantu secara sungguh-sungguh mewujudkan mimpi setiap peserta didik sesuai bakat dan minatnya. Hasil dari pendidikan di Korea Selatan dan Scandinavia itu sama-sama mencengangkan.

Akan didesain seperti apakah dunia pendidikan di Indonesia ke depannya sesuai perubahan peradaban yang begitu cepat dan dinamis? Inilah tantangan bagi para sarjana filsafat pendidikan. Saatnya menggunakan isi kepala kita dan membumikan teori-teori besar pendidikan yang selama ini hanya disimpan di dalam laci atau di gantung di awing-awang menara gading….!

Portal filsafatpendidikan.com ini masih dalam konstruksi pengembangan, tetapi sengaja diaktifkan agar dikritisi, disempurnakan, dan dipenuhi tulisan-tulisan berbobot karya para alumni Filsafat Pendidikan UNS. Silakan kritik, masukan, dan tulisan mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu dikirimkan ke email sementara alfian.mujani@yahoo.com.  AFP Jaya, Selamat berkarya…!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here