Oleh: Tri Suratmi

           Kata ”sembako” tidak asing bagi masyarakat kita. Sembako adalah  sembilan bahan pokok kebutuhan dalam hidup manusia, utamanya bagi masyarakat Indonesia. Warung sembako dapat kita temukan di setiap sudut pemukiman, baik di desa maupun di kota. Ia ada, karena dibutuhkan. Kata ”asuransi” juga tidak asing bagi masyarakat kita. Ia ada, namun tidak semua orang ”merasa membutuhkan” atau lebih tepatnya, tidak semua orang ”merasa mampu” dan ”aware” untuk memperoleh perlindungan yang bernama asuransi ini. Demikianlah gambaran sederhana tentang dua hal yang berbeda, meski keduanya penting dalam kehidupan.

Sepanjang hayatnya, manusia berada dalam perubahan. Kondisi ekonomi, teknologi, geografi, dan biologi berperan menciptakan perubahan sosial. Seorang sosiolog, William F. Ogbburn, mengemukakan bahwa kondisi teknologi merupakan faktor dominan menyebabkan perubahan sosial. Kebenaran pendapat tersebut dapat kita temukan pada pola hidup masyarakat Indonesia yang saat ini berada dalam era teknologi informasi. Pada era ini, tanpa disadari kita telah ”menciptakan” kebutuhan  baru yakni pulsa, sebagai sarana berkomunikasi. Dengan demikian, kebutuhan pokok kita bukan lagi sembilan, melainkan sepuluh. Maka kata sembako sudah semestinya berubah menjadi ”sebako.”

Selanjutnya marilah kita melakukan survey secara imajinatif terhadap masyarakat kita, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan. Dalam satu keluarga yang terdiri dari dua orang dewasa dan dua anak balita saja, setidaknya terdapat dua alat komunikasi yang membutuhkan pulsa yakni, handphone. Belum lagi jika dalam keluarga terdapat anak-anak remaja. Seorang remaja atau orang dewasa dapat memiliki lebih dari satu telepon genggam. Marilah kita mengkalkulasi, berapa juta handphone di negeri ini? Dan marilah kita hitung, berapa dana yang harus dikeluarkan oleh keluarga setiap bulannya untuk biaya komunikasi dengan membeli pulsa? Secara tidak sadar kita telah mewajibkan diri kita masing-masing untuk membayar ”premi” tanpa pernah kita dapat melakukan ”klaim” di kemudian hari. Seandainya setiap pemilik handphone juga menyisihkan setengah dari anggaran pulsa setiap bulannya untuk membayar premi asuransi, wow……luar biasa! Bukankah mereka akan memetik hasilnya di kemudian hari? Mengapa asuransi tidak dipandang sebagai suatu kebutuhan?

Jawabannya adalah, karena asuransi belum membudaya dalam masyarakat kita sebagai kebutuhan!  Maka langkah yang dapat ditempuh adalah dengan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya berjaga-jaga terhdap kondisi buruk yang berpotensi terjadi dalam diri setiap manusia, karena kita hidup dalam ketidakpastian. Kesadaran tentang suatu keadaan, akan menuntun individu melakukan suatu tindakan. Tindakan yang dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ada dalam keluarga akan menjadi tradisi. Demikianlah proses membudayakan suatu nilai dalam kehidupan, sebagaimana budaya hidup sehat untuk menghindari penyakit, dan juga budaya mengkonsumsi suatu makanan.

Perubahan memang dapat terjadi dengan sendirinya oleh faktor alam, tetapi dalam konteks merubah paradigma masyarakat, diperlukan rekayasa sosial (social engeneering), melalui suatu gerakan. Norma keluarga kecil sejahtera dan bahagia (NKKBS) merupakan salah satu contoh suksesnya gerakan nasional dalam mengantisipasi masalah kependudukan. Memang butuh sumberdaya dan strategi untuk melakukan suatu gerakan sadar asuransi di Indonesia, misalnya. Maka hal ini akan menjadi isu strategis dan sebuah tantangan bagi industri asuransi, utamanya Bumiputra.

Dalam suatu penelitian tentang  financial literacy atau ”melek finansial” yang pernah saya lakukan di sebuah desa di wilayah terpencil Indonesia, ketika saya bertanya: ”apakah masyarakat mengenal asuransi?” Mereka menjawab: ”ya,” dan ketika saya lanjutkan pertanyaan saya: ”apa nama asuransinya?” Hampir seluruhnya menjawab: ”Bumiputra!” Tetapi ketika saya tanyakan berapa orang yang memiliki polis asuransi?” Ternyata kurang dari 2% responden yang memiliki polis asuransi. Ini merupakan fakta, tentang masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memiliki asuransi meskipun mereka mengerti dan mengenalnya. Sekali lagi, menurut hemat saya, hal ini karena asuransi belum membudaya dalam masyarakat kita. Maka dalam usianya yang hampir satu abad, semoga Bumiputra semakin mengaktualisasikan dirinya dengan menjadi agen perubahan di masyarakat. Selamat!

 

SHARE
Next articleANTARA TOKYO -JAKARTA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here